Jabar dan Wamil Anak: Menuju Generasi Tangguh atau Tertekan?

 


Belakangan ini, wacana pelibatan anak-anak atau remaja dalam kegiatan pelatihan militer atau semi-militer kembali mencuat di beberapa wilayah, termasuk Jawa Barat. Meski belum berbentuk wajib militer seperti di negara-negara tertentu, pola pembinaan berbasis kedisiplinan militer mulai menyusup ke dalam kurikulum sekolah, program ekstrakurikuler, bahkan agenda pembinaan pemuda. Pertanyaannya, apakah arah ini membawa anak-anak kita menuju generasi yang tangguh, atau justru generasi yang tertekan?

⚔️ Antara Disiplin dan Tekanan

Banyak pihak mendukung pendekatan militeristik dalam pendidikan anak muda karena dianggap mampu membentuk pribadi yang disiplin, tangguh, dan memiliki semangat nasionalisme tinggi. Di tengah meningkatnya kasus kenakalan remaja, perundungan, hingga paparan gaya hidup instan, pelatihan semi-militer dianggap sebagai “rem” yang bisa mengarahkan generasi muda ke jalur yang lebih positif.

Namun, kita perlu berhati-hati. Anak-anak, terutama yang masih dalam usia di bawah 18 tahun, masih berada pada tahap perkembangan fisik dan psikologis yang rentan. Pelatihan yang terlalu keras, pendekatan yang menekankan ketundukan mutlak, serta minimnya ruang ekspresi bisa menciptakan tekanan mental yang berujung pada trauma atau pembangkangan.

📚 Wamil Anak, Istilah yang Membingungkan?

Perlu diluruskan bahwa hingga saat ini, Indonesia tidak memberlakukan wajib militer anak-anak secara resmi. Namun, istilah “wamil anak” sering dipakai secara provokatif untuk menggambarkan tren meningkatnya pendekatan militeristik dalam dunia pendidikan—baik lewat pelatihan baris-berbaris, orientasi fisik yang ketat, hingga penggunaan atribut militer dalam kegiatan pelajar.

Di Jawa Barat sendiri, beberapa program pembinaan pemuda mulai mengarah pada model ini. Misalnya, kamp pelatihan bela negara, pelatihan kedisiplinan bagi siswa baru, hingga kegiatan berbasis ketentaraan dalam kegiatan OSIS atau Pramuka. Apakah semua ini benar-benar efektif?

🔍 Refleksi: Apa Tujuan Sebenarnya?

Tujuan pembinaan remaja seharusnya adalah membentuk manusia yang merdeka secara berpikir, tangguh secara mental, dan beretika dalam bersosial. Jika pendekatan militer digunakan hanya karena kesannya “tegas dan keras,” tanpa disertai pemahaman pedagogis dan psikologis yang tepat, maka hasilnya bisa berbalik arah. Anak-anak merasa dibungkam, bukan dibina.

Sebaliknya, bila pelatihan dilakukan secara sukarela, humanis, dan disesuaikan dengan usia serta kondisi psikologis anak, maka pendekatan ini bisa jadi bermanfaat. Namun tetap, peran guru, orang tua, dan profesional psikologi anak harus dilibatkan secara aktif.

🧭 Menuju Generasi Ideal: Tangguh Tapi Tidak Trauma

Membentuk generasi tangguh tidak harus dengan cara meniru dunia militer. Tangguh bisa berarti sabar menghadapi kegagalan, mampu berpikir kritis di tengah arus informasi, dan tetap menjaga empati di dunia yang kompetitif.

Jika Jawa Barat benar ingin membina generasi unggul, maka pendidikan karakter, literasi digital, dan pelatihan kepemimpinan berbasis nilai-nilai inklusif harus menjadi landasan utama. Pendekatan fisik dan kedisiplinan keras hanyalah alat, bukan tujuan.


✍️ Penutup

"Jabar dan Wamil Anak" bukan sekadar isu pendidikan, tapi refleksi tentang arah masa depan bangsa. Apakah kita ingin anak-anak tumbuh dalam semangat disiplin yang memberdayakan, atau dalam tekanan yang memadamkan kreativitas dan rasa aman mereka?

Mari kita bangun generasi tangguh tanpa harus membuat mereka tertekan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama